Hukum Hak Asasi Manusia

Oleh: M. Khusnul Khuluq, S.Sy., M.H.

(Hakim Pengadilan Agama Sungai Penuh, PTA Jambi)

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Paling tidak, setengah abad terakhir, diskursus Hak Asasi Manusia (HAM) mendapat momentum. Mencuatnya diskursus HAM lebih merupakan trauma atas perang dua kedua. Di mana martabat kemanusiaan terinjak-injak. Dengan demikian, konsensus HAM, yang dideklarasikan pada tahun 1948, adalah upaya. Agar martabat manusia dihargai.

Benar. Perang itu menyedihkan. Para orang tua yang mati di medan perang anak-anak yang merindukan orang tuanya. Dan sang ibu yang tidak tau bagaimana memberikan jawaban. Ketika si anak bertanya tenang bapaknya yang tidak kembali.

Langit yang terus mendung. Karena asap tebal kebakaran rumah penduduk sipil. Dan jangan harap ada suasana makan pagi yang tenang. Atau makan malam yang disertai obrolan keluarga.

Begitu pula senyum anak umur tujuh tahun yang sudah lupa bagaimana tersenyum. Karena suasana selalu tegang oleh suara ledakan-ledakan. Kondisi itu, melampaui problem kemiskinan yang melanda negara-negara miskin. Juga melampaui berita politik dalam negeri yang lebih sering menggecewakan.


Selengkapnya KLIK DISINI

 

 

 

Yogyakarta- Sekretaris Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indoenesia, Drs. Arief Hidayat, S.H., M.M., di Pengadilan Tinggi Agama Yogyakarta, Selasa, (15/12), mengajak Pegawai Peradilan Keluar dari Zona Nyaman. Konsep tersebut mengajak pegawai Peradilan hijrah melakukan perubahan tidak nyaman dengan kondisi statis.

Ajakan Sekretaris Dirjen di atas disampaikan dalam pembinaan setelah materi tentang PNPB. Kegiatan tersebut dimaksud sebagai penguatan atas pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani, diikuti oleh Ketua PTA Yogyakarta, Wakil Ketua, Hakim Tinggi dan Ketua, Panitera Sekretaris Se Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan juga diikuti secara virtual oleh Pengadilan Agama Se Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut Arief Hidayat ada 7 kunci menuju sukses. Pertama, mulai dengan buat target yang akan dicapai. Kedua, kerja keras. Ketiga, sungguh-sungguh. Keempat, Optimis. Kelima, Jika gagal coba lagi. Keenam, Berhenti menyalahkan orang lain. Ketujuh, Sertakan Allah Yang Maha Kuasa dalam setiap aktifitas.

Selain itu, menurutnya kesuksesan itu tidak akan didapat seketika. Butuh kerja keras dan persiapan yang harus dilakukan sebelumnya. Kesuksesan juga tidak akan menghampiri orang-orang yang sudah merasa cukup berada di zona nyaman. Perlu ada kampanye dan tindakan berani keluar dari zona nyaman bagi mereka yang ingin meraih kesuksesan.

Gerakan zona nyaman tersebut memiliki akar atau dasar dari al-Qur’an surah al-Insyiroh (94) ayat 7. “Apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.

Mengenai Zona Integritas, ada tiga indikasi  keberhasilan dari Zona Integritas, Pertama, tidak ada keluhan dari stakeholders (internal dan eksternal). “jika di kantor itu ada aparatur yang masih Sarpras standar belum terpenuhi, hal itu menunjukkan bahwa kantor tersebut gagal dalam mewujudkan zona integritas”. ujarnya.

“demikian pula apabila tamu menemukan WC bau dan kotor dan masih ada praktek-praktek pungli, maka integritasnya telah runtuh”. Tambahnya.

Kedua, perubahan budaya kerja. Dalam budaya kerja ada istilah bad service, good service dan service excellent. Dari ketiga item ini, yang paling sempurna adalah service excellent.

“service excellent adalah ketika seseorang tidak terlalu mempertanyakan hak-haknya dan yang lebih dipentingkan adalah penunaian kewajiban dan memberikan pelayanan terbaik kepada stake holders”. Imbuhnya.

Ketiga, perubahan sikap dan prilaku. Dalam zona integritas, dituntut ada perubahan kinerja dan attitude dari aparatur. Jika sebelumnya bertindak masa bodoh dan sering meninggalkan pekerjaan dan kantor tanpa ada alasan yang dilegalkan serta membiarkan ruang kerjanya tidak rapi, sejatinya dia belum mewujudkan zona integritas.

Oleh karena itu menurut Pria terlihat awet muda ini, salah satu cara termudah adalah buat kata-kata yang menggugah bagi siapapun yang membacanya dan sertakan dengan gambar-gambar karikatur atau kartun yang disukai. “jika ada yang merasa tersinggung dengan tulisan-tulisan tersebut, maka dapat dipastikan tulisan tersebut telah mengenai sasarannya”. Pungkasnya.*(Faj)

 

Isbat Nikah dan Urgensi Pencatatan Perkawinan

 

Oleh : Afif Zakiyudin[1]

 

Pendahuluan

 

Perkawinan adalah sebuah ikatan atau akad yang kuat antara pria dan wanita. Kesadaran akan ikatan ini berdampak signifikan dalam upaya mewujudkan hubungan suami istri yang bahagia dan kekal berdasarkan syariat Islam. Karenanya dalam melangsungkan pernikahan kedua calon mempelai perlu mengetahui dengan baik prosedural akad nikah baik menurut hukum Islam maupun aturan hukum negara yang berlaku di Indonesia dalam wujud Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.

 

Pernikahan sebagai anugerah yang diterima manusia lazim disambut dengan sukacita hingga dikabarkan dan tak jarang sampai dirayakan, apalagi setelah adanya ponsel pintar (smartphone), peristiwa apapun akan dipajang (diuplod/dishare) apalagi peristiwa bahagia seperti pernikahan atau kelahiran anak, foto-foto mulai dari pre-wedding, prosesi akad nikah, hingga kelahiran anak diuplod dan dishare diberbagai media sosial seperti facebook, instagram, whatsapp atau sejenisnya dengan disertai kata-kata mutiara nan indah dan penuh kebahagiaan. Pemberitahuan kabar pernikahan logis dikabarkan, sebagai cara mencatatkan peristiwa ke dalam “memori publik”. itulah inti dari alasan logis dan sosiologis urgensi pencatatan pernikahan, akan jadi hal yang tidak lazim dan “janggal sosial” jika pernikahan disembunyikan atau tidak dicatatkan meski sekedar dalam ingatan publik.

 


 

[1] Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Unissula Semarang, Honorer di Pengadilan Agama Kajen.

 


 

Selengkapnya KLIK DISINI

PENILAIAN KINERJA PEGAWAI SEBAGAI ACUAN PEMBAYARAN TUNJANGAN KINERJA

Oleh: H. A. Zahri, S.H, M.HI

(Ketua Pegadilan Agama Trenggalek)

A. Pendahuluan

Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dirumuskan bahwa Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang diangkat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan. Jadi pegawai ASN terdiri dari dua macam PNS dan PPPK.

PNS memiliki peran sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mengingat peran PNS yang strategis mutlak diperlukan pembinaan dan salah satu langkah pembinaan berwujud penilaian terhadap kinerja. Penilaian kinerja digunakan antara lain dalam hal mempertimbangkan kenaikan pangkat, penempatan dalam jabatan, mutasi, promosi dan demosi, pendidikan dan pelatihan, kenaikan gaji berkala, dan terakhir diberlakukan sebagai acuan pembayaran tunjangan kinerja (tukin). Dimana pemotongan tukin sebelumnya hanya terkait absensi (ketidak hadiran), termasuk didalamnya hukuman disiplin dan percutian dan mulai September 2020 pemotongan tukin dikaitkan dengan penilaian kinerja pegawai.


Selengkapnya KLIK DISINI

https://drive.google.com/file/d/1Y0AENQcEpqfc-NeNd91b8ErGPHVxWBQT/view

BADILAG.MAHKAMAHAGUNG.GO.ID - Tepat pukul 19.00 wib bertempat di Mambruk Hotel Anyer, Serang Banten, Dr. Drs. H. Aco Nur, S.H., M.H. didampingi Dirbinganis Dr. H. Boy Chandra Seroza, S.Ag., M.Ag dan Dirbin admin Dra. Hj. Nur Djanah Syaf, S.H., M.H. Pertama kalinya diawal tahun 2020 Ditjen Badilag Subdit Syariah melakukan kegiatan Orientasi Hisab Rukyat dalam rangka meningkatkan kwalitas sumber daya manusia para Hakim Peradilan Agama, yang mana pada acara tersebut dilaksanakan mulai tanggal 11-13 Maret 2020 dan diikuti sebanyak 31 peserta dari Hakim yang berasal didaerah yang terdapat titik dalam penentuan Hisab Rukyat.

Artikel Selanjutnya...